SELAMAT DATANG DI BLOGS SAYA

Jumat, 28 Juni 2013

Pakistan Berhasil Uji Coba Rudal Balistik Hatf-V


Rudal Balistik Hatf-V

Komando Pasukan Strategis Angkatan Darat (ASFC) Pakistan telah berhasil menguji coba rudal balistik jarak menengah produksi  dalam negeri Hatf-V (Ghauri) pada akhir November lalu. Tes penembakan dilakukan di sebuah lokasi yang dirahasiakan Komando Rudal Strategis, yang uji coba ini ditujukan untuk mengecek kesiapan dari rudal balistik tersebut.
Dipantau oleh National Command Centre (NCC), dengan keberhasilan ini berarti menunjukkan semakin kuatnya kemampuan dan keamanan nasional Pakistan. Sebuah sistem persenjataan canggih dengan akurasi yang tinggi telah ditunjukkan oleh personel ASFC pada saat peluncuran.
Dikembangkan oleh Khan Research Laboratories (KRL) di bawah penelitian Program Pembangunan dan Penelitian Rudal Pakistan, Hatf-V adalah rudal balistik yang menggunakan bahan bakar cair, yang mampu membawa hulu ledak konvensional dan nuklir hingga 700 kg dengan jangkauan 1.300 km.
Diklaim sebagai kloning dari rudal Korea Utara Rodong-1, Ghauri telah diproduksi dalam dua varian, Ghauri-I dan Ghauri-II, yang memiliki jangkauan maksimum 2.000 km. Pakistan saat ini memiliki 30 sampai 70 hulu ledak nuklir, serta rudal balistik jarak pendek dan menengah.

AS Khawatirkan Persaingan Senjata di Asia Tenggara


Tank Tempur Utama T-84 Oplot
T-84 Oplot buatan Ukraina, 49 unit telah diakuisisi Thailand
Amerika Serikat tidak menginginkan terjadi perlombaan senjata antarnegara di kawasan Asia Tenggara terkait perkembangan geopolitik terbaru di kawasan ini, termasuk persoalan sengketa di Laut China Selatan.

Negara adidaya tersebut mengharapkan seluruh pembelian senjata oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara adalah bagian dari rencana jangka panjang negara bersangkutan, bukan sebatas reaksi atas apa yang dilakukan negara tetangga.

Demikian diungkapkan Mark W Lippert, Asisten Menteri Pertahanan AS untuk Urusan Keamanan Asia Pasifik (APSA), kepada Kompas, di Jakarta, Senin, 10 Desember 2012. Saat wawancara, Lippert didampingi Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel.

Lippert mengatakan, hingga saat ini AS belum melihat perlombaan senjata di negara-negara Asia Tenggara. Menurutnya, kenaikan belanja persenjataan di kawasan itu masih dalam batas wajar terkait pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

"Negara-negara, seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam, telah berhasil secara ekonomi dan mempunyai kepentingan sah untuk memodernisasi dan memprofesionalkan militer mereka," ujar Lippert.

Meski demikian, ia mengingatkan agar pertumbuhan belanja militer itu tetap dijaga dalam kerangka rencana jangka panjang yang jelas.

"Kami tidak ingin melihat suatu negara melakukan pembelian (senjata) hanya karena tetangganya membeli (senjata) itu. Kami ingin pembelian itu dilakukan dalam sebuah kerangka perencanaan. Perencanaan yang didasarkan pada situasi ekonomi suatu negara dan kebutuhan keamanan yang terkait," ujarnya.

Peningkatan belanja

Seperti yang diberitakan selama ini, negara-negara di Asia Tenggara seolah sedang berlomba melengkapi angkatan bersenjata mereka dengan persenjataan terbaru. Menurut buku The Military Balance 2012 yang disusun International Institute for Strategic Studies (IISS), belanja sektor pertahanan di kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan naik 4,85 persen dalam periode 2010-2011.

Berikut beberapa alutsista yang dibeli negara Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir:
  • Vietnam, 6 kapal selam kelas Kilo dari Rusia (2009) dan 12 jet tempur Sukhoi Su-30MK2 (2010).
  • Singapura, 2 kapal selam kelas Archer dari Swedia (2011) dan 12 jet tempur F-15SG dari AS (2007).
  • Thailand, 49 tank tempur utama T-84 Oplot dari Ukraina (2011) dan 6 jet tempur Gripen dari Swedia (2010).
  • Myanmar, 20 jet tempur MiG-29 Fulcrum dari Rusia (2009).
Indonesia sendiri kita ketahui tengah dalam proses pembelian tank tempur utama Leopard dari Jerman, 3 kapal selam dari Korea Selatan, dan 24 jet tempur F-16 (upgrade) dari AS.
IISS menyatakan, peningkatan kemampuan militer sebagian negara di Asia Tenggara tidak didasarkan pada rencana modernisasi yang telah mereka umumkan. Alih-alih, mereka diduga meningkatkan belanja militer itu untuk melawan "petualangan" China dan negara-negara tetangganya dalam sengketa di Laut China Selatan.

Bionix, Kendaraan Tempur Infanteri Singapura

Kendaraan tempur infanteri Bionix dikembangkan oleh Singapore Technologies Automotives (sekarang Singapore Technologies Engineering) dan telah digunakan Angkatan Darat Singapura sejak tahun 1999 dalam varian Bionix 25 dan Bionix 40/50.

Bionix II (BXII) mulai digunakan oleh Angkatan Darat Singapura pada bulan Oktober 2006. Bionix II ini dikembangkan secara bersama-sama oleh ST Engineering, Defence Science and Technology Agency (DSTA) dan Angkatan Darat Singapura.

Kendaraan tempur infanteri Bionix
Bionix II, varian terbaru dari kendaraan tempur infanteri Bionix

Kendaraan lain yang masuk dalam keluarga Bionix adalah Kendaraan Lapis Baja Recovery (ARV), yang dilengkapi dengan winch 25t dan derek 30t, dan Kendaraan Lapis Baja Jembatan (AVLB), yang dilengkapi dengan sebuah jembatan MLC30 yang diluncurkan dengan remote control dan Kendaraan Angkut Infanteri (ICV)

Kendaraan Tempur Infanteri Bonix II

Bionix II memiliki lambung umumnya kendaraan tempur infanteri, tetap menggunakan power pack dan suspensi dari varian sebelumnya, namun dilengkapi dengan sistem jaringan manajemen pertempuran digital, ATK mk44 Bushmaster 30mm dual-feed cannon dan paket armor modular. Dua tentara pada turret dan dapat mengangkut hingga sepuluh tentara. Bionix II juga dipersenjatai dengan sebuah senapan mesin koaksial 7.62mm dan sebuah senapan mesin umum 7.62mm.

Bionix II memiliki pengamatan termal siang dan malam hari yang baik, dengan sistem stabilisasi dual-axis untuk meningkatkan pelacakan target. Pengintai lasernya memiliki jangkauan hingga 3 km.

Kendaraan Tempur Lapis Baja Bionix 25

Bionix 25, turret dapat ditempati oleh 2 tentara dan juga dapat mengangkut sepuluh tentara. Bionix 25 dipersenjatai dengan cannon ATK M242 25mm Bushmaster dual-feed dengan stabilisator vertikal dan horizontal. Meriamnya siap menembakkan 180 amunisi 25mm dalam satu putaran ditambah 420 putaran dalam stok amunisi.

Kendaraan tempur infanteri Bionix
Bionix II, mulai digunakan Angkatan Darat Singapura sejak bulan Oktober 2006

Penembak memiliki 8x perbesaran siang dan penglihatan malam termal dengan dua bidang pandang untuk meriam 25 mm. Laser Rangefinder juga dapat ditambahkan untuk penglihatan siang dan malam hari. Kendaraan ini memiliki enam peluncur granat asap 76mm.

Bionix Angkut Pasukan 40/50

Hanya 1 tentara di turret Bionix 40/50. Varian Bionix yang satu ini diproduksi oleh Chartered Industries of Singapore dan dapat mengangkut 11 tentara. Memiliki stasiun senjata kembar dengan peluncur granat 40 mm, senapan mesin 7,62 mm dan 12,7 mm.

Turret (Kubah)

Bionix dengan dua tentara pada turret menggunakan turret yang kesemuanya dilas dengan baja konstruksi. Proteksi lapis baja tambahan dapat dipasang dengan lapisan pasif. Stasiun penembak berada di sebelah kanan dan stasiun komandan di sebelah kiri, masing-masing dengan dilengkapi dengan tutup palka tunggal.

Lintasan turret 360° dengan kontrol digital. Baik penembak dan komandan memiliki tombol stop lintasan turret. Periskop memberikan penembak bidang pandang ke kanan dan ke bagian belakang kendaraan. Komandan memiliki relay optik sekunder dari pandangan penembak dan juga periskop dengan bidang pandang ke depan, kiri dan belakang.

Bionix 25 dan Bionix 40/50
Bionix 25 (kiri) dipersenjatai dengan meriam 25 mm dan Bionix 40/50 (kanan) dengan peluncur granat 40mm dan senapan mesin.

Hull (Lambung)

Hull dan turret kesemuanya dilas dengan baja konstruksi dengan proteksi lapis baja modular pasif. Akses ke kompartemen pasukan di bagian belakang kendaraan menggunakan power-operated ramp, yang dapat digunakan sebagai akses darurat dan pintu keluar.

Stasiun Pengemudi

Stasiun pengemudi memiliki tiga pemandangan periscopik. Kedua periskop luar adalah pemandangan siang sedangkan periskop pusat dapat dengan cepat berubah antara lingkup siang dan malam lingkup gambar-intensif.

Bionix khusus jembatan
Bionix khusus jembatan (AVLB), dilengkapi dengan jembatan MLC30

Mesin

Power pack, yang dapat dengan mudah dilepas di lapangan dalam waktu kurang dari 15 menit, dipasang di bagian kanan depan kendaraan.

Mesin diesel Detroit Diesel 6V-92TA turbocharged menghasilkan tenaga 475 hp pada 2.400 rpm, potensialnya mencapai 550hp. Mesin ini dilengkapi dengan injeksi diesel yang dikontrol secara elektronik. Kompartemen mesin dilengkapi dengan deteksi kebakaran otomatis dan sistem pencegah kebakaran dry-powder dilengkapi sebagai cadangan.

Kendaraan ini dilengkapi dengan transmisi otomatis hydromechanical HMPT-500EC dan final drive dari General Dynamics Land Systems.

Bionix recovery
Bionix recovery (ARV), dilengkapi dengan winch 25t dan derek 30t

Sistem pendingin, disediakan oleh Galley, dirancang untuk menjadikan kendaraan ini low thermal signature yang rendah. Dua tangki bahan bakar dengan total kapasitas 562l terpasang di kedua sisi dan di bagian atas lambung.

Suspensi dan Running Gear

Suspensi Hydrostrut dari Horstman Defence Systems, yang berbasis di Bath Inggris, memberikan stabilitas bagi pengoperasian sistem persenjataan dan kondisi mendaki yang nyaman. Suspensi ini merupakan hydropneumatic dan didasarkan pada unit suspensi Hydrogas yang terbukti keunggulannya dipasang pada tank Challenger dan AS 90 self-propelled howitzer.

Mobilitas

Bionix memiliki kecepatan 70km/jam di jalan mulus dan 25km/jam sampai 40km/jam di medan yang tidak rata. Dengan kecepatan 45km/jam, kendaraan ini mampu berjarak tempuh 415 km tanpa mengisi bahan bakar.

Bionix angkut infanteri
Bionix angkut Infanteri (ICV), dengan remote pada stasiun senjata

Dengan turning radius 9,9 m dan 6,5 m pivotal turn, kendaran ini dapat bermanuver dengan lincah di lingkungan perkotaan atau ruang terbatas.

Beberapa manuver rintangan yang bisa dilewati oleh Bionix antara lain parit 2,2 m, dinding setinggi 0,8m dan mampu melewati medan air dengan kedalaman 1m (dengan persiapan). Kendaraan ini sepenuhnya dapat menjadi kendaraan amfibi bila kit opsional telah dipasang.

Karakteristik dan Spesifikasi

Panjang : 6,3m
Lebar : 2,95m
Tinggi ke puncak lambung : 1,8m
Tinggi ke tip turret  : 2,57m
Kecepatan : 70km/jam

   Kecepatan medan off-road 25 sampai 40km/jam
Akselerasi dari 0 sampai 32km/jam : 10 detik

India Bangun Prototipe Tejas MK.2

Tejas MK.1
India melalui perusahaan kedirgantaraannya Hindustan Aeronautics Limited (HAL) telah memulai tahapan untuk pembangunan prototipe pertama dari pesawat tempur Tejas MK.2, ukurannya sedikit lebih besar dan kemampuannya lebih baik dibanding Tejas MK.1.

HAL akan menggunakan mesin turbofan F414-GE-INS6 pada Tejas MK.2. Program Tejas MK.2 setidaknya telah dianggarkan sebesar US$542 juta, yang terdiri dari pengembangan rekayasa skala penuh. Angkatan udara India (IAF) berencana untuk memiliki 83 pesawat Tejas jenis ini.

Tejas adalah pesawat tempur ringan (LCA-Light Combat Aircraft) generasi keempat buatan HAL dan merupakan pesawat tempur pertama buatan India. Pesawat ini secara resmi diberi nama Tejas yang diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya cahaya. Harga per unitnya sekitar US$31 juta.

Tejas mulai dikonsep pada tahun 1975 akan tetapi proyek gagal karena ketiadaan untuk mendapatkan mesin yang diinginkan Angkatan Udara India (IAF) dari negara luar. Proyek Tejas kemudian dilanjutkan lagi di tahun 1983. Tejas awalnya diproyeksikan untuk menggantikan pesawat tempur MIG-21 yang sudah digunakan sejak tahun 1970 dan sudah habis masa pakainya sejak tahun 1995.

Karena berbagai penundaan, ditambah lagi embargo komponen-komponen karena tes senjata nuklir India pada tahun 1998, akhirnya Tejas baru terbang pada 4 Januari 2001 dengan komponen yang dibuat sendiri.

Layaknya Dassault Rafale Perancis, Tejas juga menggunakan desain sayap Delta. Sebagai pilihan awal, HAL menggunakan mesin jet General Electric F404-GE-IN20 buatan Amerika sebagai powerplant sementara hingga mesin jet turbofan buatan mereka sendiri yaitu KAVERI GTRE GTX-35VS. Karen ambisiusnya India untuk mendapatkan jet tempur buatan sendiri, sekitar 35 komponen avionik mereka buat sendiri dan hanya melibatkan 3 kontraktor asing untuk beberapa komponen.

Korut Luncurkan Roket, AS Pantau dengan Kapal Perusak

Fasilitas pelincuran roket Korea Utara

Awal Desember lalu Korea Utara mengumumkan akan kembali menguji coba roket jarak jauh sebelum akhir bulan setelah upaya terakhirnya gagal. Diperkirakan ini akan terjadi antara 10 Desember hingga 22 Desember.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh New York Times, Komandan Pasukan Amerika Serikat di wilayah Pasifik saat ini sedang mereposisi kapal perang yang dilengkapi dengan radar canggih dan sistem pertahanan rudal balistik guna memantau peluncuran roket Korea Utara.

Adalah USS Fitzgerald dan Benfold yang merupakan kapal tipe perusak kawal rudal dikabarkan sudah menempati posisinya guna memantau aktivitas roket Korea Utara.

Dalam sebuah konferensi pers di Pentagon, seorang petinggi Angkatan Laut AS memang menyinggung soal reposisi kapal perang guna memonitor peluncuran dan untuk mengetahui lebih banyak lagi aktivitas roket Korea Utara. Berbicara soal reposisi ini, dia mengatakan "Ini sangat logis bahwa kita memindahkan mereka (kapal perang), karena kita memiliki kesadaran situasional yang baik."

Dia melanjutkan soal sistem yang ada di kapal perang tersebut: Sistem ini bertujuan untuk memantau rudal-rudal balistik, kita dapat mengetahui posisi mereka saat melakukan itu. Roket sedang meluncur kemana, apakah menimbulkan ancaman atau tidak. Dengan reposisi kapal perang ini setidaknya akan menghilangkan kekhawatiran sekutu-sekutu AS (Korsel dan Jepang) di wilayah tersebut.

Sukhoi Su-30SM Pertama untuk AU Rusia

Sukhoi Su-30SM
JSC Irkut Corporation (bagian dari JSC United Aircraft Corporation) menyerahkan 2 Fighter Sukhoi Su-30SM untuk Angkatan Udara Rusia. Penyerahterimaan ini ditandatangani secara resmi pada 22 November lalu di pabrik kedirgantaraan Irkutsk - cabang JSC Irkut Corporation.

Oleg Demchenko, Presiden JSC Irkut Corporation, pada upacara penandatanganan mengatakan: "Kami telah mengekspor selama bertahun-tahun, dan sekarang kami mulai untuk memberikan pesawat ke Tanah Air. Sembilan pesawat baru kami Yak-130 telah terbang di pusat pelatihan Borisoglebsk sampai saat ini, dan sekarang kami memberikan 2 Sukhoi Su-30SM pertama untuk Angkatan Udara Rusia. Ini merupakan peristiwa bersejarah bagi tim kami, perusahaan Sukhoi, dan untuk United Aircraft Corporation Serikat secara keseluruhan ".

Alexander Harchevsky, Kepala pusat penelitian dan pelatihan Militer, mengatakan "Su-30SM akan menambah kemampuan tempur Angkatan Udara Rusia". Harchevsky adalah seorang pilot militer kondang, yang telah memiliki pengalaman dalam merintis berbagai jenis fighter Rusia, menyebutkan Su-30SM dapat menghancurkan beberapa sasaran di saat yang bersamaan dan manuvernya yang super. "Pesawat ini sangat penting untuk digunakan oleh Angkatan udara Rusia, bukan dalam jumlah unit, tapi skuadron," pungkas Harchevsky.
Sukhoi Su-30SM

Jet tempur multiguna super-manuver Sukhoi Su-30SM merupakan pengembangan lebih lanjut dari keluarga pesawat tempur Su-30MK. Spesialis dari Biro Desain Sukhoi JSC merancang pesawat ini dengan sistem radar, radio, sistem rekognisi, kursi ejeksi (lontar) dan sejumlah sistem pendukung yang sesuai dengan kebutuhan Angkatan Udara Rusia. konfigurasi persenjataan juga dirubah.

Kontrak untuk pengiriman 30 unit Su-30SM pada tahun 2015 telah ditandatangani antara Menteri Pertahanan Rusia dan JSC IRKUT Corporation pada bulan Maret 2012.

Senapan Serbu Kalashnikov Terbaik di Dunia

Vladimir Putin telah mendukung ide penggabungan perusahaan Izhmash dan Izhmekh sebagai bagian dari Russian Technologies State Corporation dan di bawah nama merek Kalashnikov. Foto: Seorang wanita muda memegang senapan serbu Kalashnikov AK-103 yang dilengkapi dengan TN-1 thermal imaging sight pada Pameran Internasional Polisi dan Peralatan Militer (Interpolitex 2012) di Moskow.
(Foto: RIA Novosti/Vladimir Astapkovitch)


Wakil Perdana Menteri Dmitry Rogozin dengan AK
Wakil Perdana Menteri Dmitry Rogozin yang menyuarakan inisiatif ini (penggabungan Izhmash dan Izhmekh) juga mengatakan ia berencana untuk melakukan usaha yang tegas guna melindungi hak cipta senapan buatan Rusia ini di pasar global.
(Foto: RIA Novosti/Sergey Mamontov)


Senapan serbu Kalashnikov
Senapan serbu Kalashnikov dikembangkan pada tahun 1947, dan diadopsi oleh Angkatan Bersenjata Soviet tiga tahun kemudian (1950).
(Foto: RIA Novosti/Alexandr Kryzahev)


Senapan populer Kalashnikov
Senapan serbu Kalashnikov merupakan salah satu senapan yang paling dapat diandalkan dan populer di dunia.
(Foto: RIA Novosti/Pavel Lisitsin)

AK-47 handal dan simpel
Keunggulan dari senapan serbu Kalashnikov adalah kehandalan dan kesederhanaan teknologinya.
(Foto: RIA Novosti/Sergey Kuznetsov)


Sang penemu AK-47
Mikhail Kalashnikov, penemu dari senapan serbu legendaris AK-47. Secara resmi, namanya telah digunakan dalam nama merek varian dan generasi selanjutnya dari AK-47.
(Foto: RIA Novosti/Ruslan Krivobok)

Kalashnikov
Senapan serbu ini setidaknya telah diadopsi oleh 50 Angkatan Bersenjata di dunia.
(Foto: RIA Novosti/Denis Gukov)


Varian Kalashnikov
Lebih dari 70 juta senapan serbu Kalashnikov telah diproduksi sejak 1947, termasuk berbagai varian modifikasinya.
(Foto: RIA Novosti/Igor Zarembo)


Amunisi Kalashnikov
Izhevsk Mechanical Plant (Izhmekh) adalah perusahaan multi-peran utama Rusia dengan rekayasa teknik state-of-the-art,  metalurgi, instrumen dan teknologi mikroelektronika. Perusahaan ini memproduksi perlengkapan dan alat untuk sipil dan militer, antara lain packing equipment, peralatan listrik, peralatan dapur, peralatan minyak dan gas, peralatan medis dan coran baja presisi tinggi.
(Foto: RIA Novosti/????? ??????)


Peluru Kalashnikov
The Izhmash Scientific and Production Association (NPO), di mana Russian Technologies State Corporation memiliki saham mayoritas disini, mengembangkan dan memproduksi berbagai macam produk militer dan sipil, termasuk Kalashnikov dan senapan serbu Nikonov, senapan mesin ringan, senapan sniper, peluncur roket, senjata pesawat, serta sistem pandu artileri.
(Foto: RIA Novosti/Sergey Kuznetsov)